Tersangka Pelaku “Tahun yang Gelap” di Eropa Abad Ke-13

0
16
rinjani

Pada pertengahan abad ke-13 merupakan salah satu masa paling merepotkan bagi kawasan Eropa. Pada saat itu, kawasan tersebut mengalami saat-saat yang begitu gelap, terutama bagi Eropa bagian Barat.

Kegelapan itu bukanlah tentang pola hidup sosial atau hal-hal yang menjurus ke arah moralitas nilai-nilai tertentu. Porosnya berada di luar dari apa yang selama ini digambarkan dalam periode abad pertengahan yang dijuluki sebagai “Abad Kegelapan” (Dark Ages) antara abad ke-5 hingga ke-14 di Eropa.

Jauh dari gambaran sejarah itu, belahan Eropa harus menerima kepungan material asing berupa abu-abu tebal. Invasi awal material tersebut diperkirakan terjadi sekitar tahun 1257 silam.

Periode gelap itu pun berlanjut dan efeknya dirasakan sepanjang tahun 1258–1259 kemudian. Periode kepungan ini pun bertautan dengan kemunculan krisis yang implikasinya tak bisa dibilang kecil.

Hal ini ditandai dengan adanya anomali cuaca besar-besaran. Perubahan cuaca itu kemudian berlanjut. Efeknya menggurita seperti menimbulkan efek domino, mulai dari gagal panen yang kemudian mengarah ke bencana kelaparan.

Tahun yang Gelap Bagi Eropa

Adapun, efek-efek tersebut merupakan salah dari sejumlah titik yang memperburuk dan memperpanjang krisis yang sudah terjadi lebih dahulu, sebelum dan setelahnya. Ya, efek yang menyebabkan kebuntuan besar bagi kehidupan masyarakat.

Jika sebutan “abad kegelapan” Eropa kala itu lebih merujuk ke sisi imateril, maka periode “tahun yang gelap” ini justru bergerak pada sisi harfiahnya. Material yang benar-benar menggelapkan rupa.

Kedua sebutan tersebut memanglah peristiwa terpisah. Namun, dilihat dari rentang waktunya keduanya saling bertalian. Sama-sama saling “menggelapkan” Eropa.

Itu artinya, “tahun yang gelap” merupakan satu sisi lain yang menjadi bagian dari Dark Ages secara keseluruhan. Bagian lain itu tak lain dan tak bukan adalah kabut yang begitu misterius bagi warga terdampak di abad ke-13 kala itu.

Maka, dapat dikatakan bahwa di antara “Abad Kegelapan” Eropa itu terselip sebuah periode yang dikenal sebagai tahun yang gelap. Ya, kabut pekat yang mampu menyelimuti kawasan besar.

Menjelma Episode Misterius Panjang

Apa yang terjadi saat itu hanya diketahui sebagai sebenar-benarnya peristiwa. Krisis besar yang dipicu oleh sesuatu. “Tahun yang gelap” itu merupakan bentuk dari suatu reaksi yang entah apa.

Pola dari akibat krisis tersebut pun seakan memaksa pihak-pihak yang terdampak dapat menyikapi dan mau tak mau harus menyesuaikan diri saja. Ya, tanpa tahu apa atau siapa pemicunya.

Apa yang menjadi latar belakang krisis itu pun menjelma sebagai sebuah episode sejarah yang misterius. Salah satu episode panjang yang benar-benar pernah terjadi di eropa, bahkan untuk dunia.

Mencari tahu tentang pemicu “tahun yang gelap” kala itu seolah seperti memburu pelaku kriminal yang identitasnya sulit teridentifikasi. Apalagi untuk sebuah peradaban masa itu.

Mempertanyakan hal itu mungkin akan hampir sama dengan rumitnya menelusuri jawaban di balik sebuah kasus pembunuh berantai (serial killer). Banyak korban berjatuhan dan diiringi dengan pertanyaan tentang siapa pelaku di baliknya.

Kabut Misteri yang Mulai Menguar

Jika boleh diibaratkan, krisis ini seperti misteri pelaku dalam kasus-kasus serial killer yang begitu terkenal. Contohnya saja kasus “Jack the Ripper” yang terjadi pada 7 Agustus hingga 10 September 1888 silam.

Kasus tersebut menjadi salah satu kasus besar. Tak sedikit korban dikaitkan dalam kasus tersebut. Dan, misteri panjang muncul mengiringi kasus tersebut melalui identitas si pelaku, bahkan sampai tak ada lagi korban tambahan yang dapat dikaitkan.

Hampir serupa dengan “Jack the Ripper” dan kasus-kasus serupa lainnya, krisis abad ke-13 Eropa juga tak menemukan secara pasti siapa yang seharusnya bertanggung jawab.

Namun, pada tahun 2013 lalu, kabut misteri yang telah lama bersembunyi di balik krisis itu akhirnya mulai menguar. Tanda-tanda ilmiah menjadi titik penting dalam mengurai kepulannya.

Setelah serangkaian peradaban, petunjuk perihal siapa yang harusnya bertanggung jawab atas krisis tersebut akhirnya mulai terlihat. Sang pelaku yang menyebabkan kegelapan Eropa Barat kala itu ternyata adalah sebuah gunung berapi.

Sumber Pemicu yang Jauh

Ada banyak dugaan yang mengarahkan pemicu krisis itu berkaitan dengan letusan gunung berapi. Hal ini bukanlah hal yang mengada-ada, lantaran letusan gunung api menghasilkan aerosol sulfat yang mendorong perubahan iklim, kerusakan ozon, dan mengganggu stabilitas radiasi atmosfer.

Dari sana, penelitian seorang ahli gunung berapi asal Perancis, Frank Lavigne akhirnya menemukan sebuah petunjuk. Ia bersama timnya mengungkapkan bahwa “tahun yang gelap” di Eropa itu ada kaitannya dengan letusan yang berasal dari gunung di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Tahun letusan terjadi pada 1257, tepat saat invasi material yang mengawali periode gelap di Eropa dimulai. Lavigne menyebut bahwa ada kemungkinan waktunya memiliki kesamaan.

Selain itu, mereka juga meyakini temuannya ini setelah mencocokan sisa kandungan geokimia vulkanis yang ditemukan dengan apa yang ada di Pulau Lombok. Ya, seperti sebuah kasus yang justru tersangkanya berada jauh dari TKP.

Kecocokan tersebut pun menimbulkan kemungkinan lainnya. Sebuah gunung api yang dimasukan dalam bursa tersangka itu berarti memiliki daya super untuk membuat “kekacauan” yang menjelajah hingga ke Eropa kala itu.

Perpanjang Daftar yang Sudah Ada

Apabila identitas tersangka berasal dari Pulau Lombok, maka benang merah akan otomatis mengarah ke satu-satunya gunung berapi di pulau tersebut. Tidak lain dan tidak bukan adalah Rinjani.

Namun, apakah Rinjani seperti yang kita kenal sekarang ini mampu melakukan hal tersebut? Bagaimana bisa gunung yang semenawan ini bisa se-iseng itu?

Identitas tersangka itu pun pada akhirnya dapat terungkap dengan nama Samalas. Sebuah identitas kolosal untuk sebuah gunung yang kini begitu populer sebagai metropolitan alam bernama Rinjani.

Ya, baik Rinjani ataupun Samalas adalah dua nama yang saling terkait. Narasi sejarah dan temuan saintifik adalah poin vital yang membuat keduanya demikian. Ada gap alinea sejarah yang terputus, dianggap sebagai faktor mengapa hal ini terjadi.

Namun, terlepas dari dua nama berbeda itu, gunung ini tetaplah satu sosok yang memperpanjang daftar gunung api di Indonesia yang “letusan kolosal”-nya pernah berdampak signifikan ke benua lain seperti Gunung Tambora, Sumbawa dan Krakatau, Sumatera.

*   *   *

Deretan Nama Tersangka Lain

Samalas, atau yang kini populer dengan sebutan Rinjani akan sangat pantas masuk dalam daftar tersebut. Pasalnya, pada temuan terbaru turut mengungkap bahwa efek yang ditimbulkan oleh letusannya pada tahun 1257 itu berhubungan dengan kemunculan pandemi global yang dikenal dengan wabah Black Death (maut hitam) di abad pertengahan.

Perubahan iklim berupa penurunan suhu global selama 3-4 tahun kala itu diduga menjadi salah satu pemicu wabah Maut Hitam itu. Wabah ini sendiri diketahui sebagai salah satu wabah pes terparah lantaran mampu merenggut hampir setengah dari total populasi warga di Eropa saat itu.

Namun, dalam penelitiannya, Lavigne dkk masih tak menutup kemungkinan jika masih ada tersangka lain selain Samalas. Timnya menyebut di antaranya adalah Gunung El Chichón, Meksiko; Gunung Quilotoa, Ekuador; dan Gunung Okataina di Selandia Baru.

Sayangnya, dari temuannya tersebut Samalas tetap jadi kandidat paling kuat. Tak satupun gunung-gunung api tadi menunjukkan kecocokan data vulkanologi dan perkiraan waktu letusan “sebaik” Samalas.

Kekocokan inilah yang menjadikan Samalas berada paling depan dalam bursa tersangka “tahun yang gelap” di Eropa. Menariknya, jika faktanya tak bisa lagi terbantahkan, maka Samalas seperti seorang pelaku yang terbukti sudah pernah membuat kekacauan.

Menikmati Alur Cerita yang Baru

Bisa diibaratkan, jika Samalas adalah salah satu komplotan pelaku yang bertanggung jawab. Namun, karena ingin terhindar dari segala tuduhan demi menjaga nama baiknya, Samalas mengganti identitasnya menjadi Rinjani.

Seakan beruntung, nama Rinjani punya nasib lebih baik. Rinjani tentu jauh lebih populer bagi peradaban saat ini. Di balik kengerian amukan letusan Samalas, siapa yang tak kenal kemegahan Rinjani saat ini?

Memang, Samalas dan Rinjani adalah kesamaan letak geografis tak terbantahkan. Tetapi, keduanya berada di antara pembatas buku dalam satu sampul yang sama.

Cerita tentang Samalas terhenti sebagai gunung raksasa setinggi ± 4200 mdpl yang mengerikan dengan. Sementara kisahnya berlanjut, kini sebagai Rinjani, melanjutkan sisa dari ⅔ tubuh Samalas yang hancur pasca letusan serta cerita sebagai salah satu erupsi—8 kali lebih dahsyat dari Karakatau di tahun 1883—terbesar di dunia dalam 7000 tahun terakhir. Samalas seperti mampu menghindar dari penyelidikan di abad ke-13 dengan bersembunyi di balik identitas baru. Di tambah dengan wajah baru berupa jejak kaldera luas yang di dalamnya terdapat Danau vulkanis Segara Anak dan Gunung Barujari.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini