Soto Sasak, C[er]ita Rasa yang Melegenda

0
3
soto sasak

Reputasi kuliner khas Pulau Lombok lebih melekat dengan nama-nama seperti: plecing kangkung, ayam taliwang, ataupun ayam rarang. Hal itu tampaknya memang sudah bukan lagi suatu yang mengherankan.

Ketiga nama kuliner tersebut bisa lebih dikenal lantaran “akses” mudah dijangkau wisatawan dari luar Lombok. Setiap turis yang melancong, akan hampir selalu direkomendasikan untuk mencicipinya.

Namun, hanya sebagian orang yang mengetahui kalau daerah ini juga punya kuliner khas berupa soto. Ya, kuliner berkuah asal Lombok ini hampir senasib dengan ebatan.

Soto Sasak. Demikian soto yang merepresentasikan Pulau Lombok itu dikenal. Sebutan “Sasak” itu sendiri sesuai nama suku asli yang mendiami pulau yang juga dijuluki sebagai Pulau Seribu Masjid ini.

Masih Dalam Posisi Aman

Masih belum terkenal – Soto Sasak. Demikian soto yang merepresentasikan Pulau Lombok itu dikenal. Sebutan “Sasak” itu sendiri sesuai nama suku asli yang mendiami pulau yang juga dijuluki sebagai Pulau Seribu Masjid ini.

Di antara aneka soto khas dari berbagai daerah di Indonesia, Soto Sasak masih tetap bertahan. Paling tidak kuliner satu ini masih bisa ditemukan; dijual di beberapa sudut di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Kendati belum sepopuler nama-nama soto dari daerah lain seperti Soto Aceh, Soto Banjar, ataupun Soto Lamongan, eksistensi dari Soto Sasak masih bisa terselamatkan di daerah asalnya sendiri.

Terlepas dari belum terkenal di kalangan turis, Soto Sasak adalah kuliner dengan nama besar bagi sebagian warga lokal. Di Lombok, masih ada penjual yang setia menjaga eksistensinya tersebut sampai saat ini.

Hadapi Kemunculan Tamu

Namun, tantangan tersebut belum selesai sampai pada popularitasnya di hadapan turis saja. Di tengah deretan kuliner khas Lombok yang sudah sedemikian terkenal pun semakin menekan nasib Soto Sasak.

Belum lagi jika harus melibatkan peta persebaran kuliner khas daerah di Indonesia lain yang ikut meramaikan khazanah wisata kuliner di Lombok. Seperti daerah lain, hal ini tentu sudah menjadi kisah yang tak terhindarkan.

Dari poin ini, Soto Sasak pun turut bersaing dengan soto-soto khas dari luar daerah. Tak begitu sulit untuk menemukan penjual yang menawarkan soto selain Soto Sasak di Lombok, tak terkecuali di Kota Mataram, Ibukota Provinsi NTB.

Sebagai kuliner pendatang, Soto Sasak yang bisa dibilang berstatus tuan rumah mau tidak mau harus menerima para tamunya. Entah itu kuliner sesama soto maupun dari jenis lain.

Tetap Memiliki Perbedaan

Kendati berada dalam peta kuliner Indonesia yang diketahui memiliki beraneka soto, tetap saja berbeda daerah berbeda pula ciri khas yang diusung. Hal itu juga ada pada Soto Sasak khas Lombok.

Penggunaan mi kuning sebagai isian merupakan salah satu ciri yang menandakannya. Soto Sasak disajikan dengan kuah kaldu yang berwarna kecoklatan dari bumbu rempah yang digunakan.

Keutamaan cita rasa dari soto ini bergantung pada kaldu kuahnya. Isian-isian dari soto inilah yang semakin menjadi penyempurna kemudian. Adapun campuran isian terbaik dari soto bisa dibilang ada pada irisan daging ayam kampung.

Seperti soto pada umumnya, seporsi Soto Sasak juga biasanya disajikan dalam mangkuk. Selain mi kuning dan potongan daging ayam kampung, penyajiannya kian meriah dengan potongan lontong, telur rebus, sayur caisim, dan tauge.

Salah Satu Sudut Sejarah

Cita rasa gurih dari kuahnya semakin mantap dengan tambahan taburan koya dan bawang goreng. Irisan tebal potongan daging ayam kampungnya turut memberi tekstur yang begitu pas.

Apabila ingin memberi tambahan tekstur renyah, Soto Sasak juga tak jarang disajikan dengan tambahan topping berupa kacang asin ataupun kerupuk. Campuran kuah kaldu dan isiannya membuat satu porsi Soto Sasak terdengar mengenyangkan, bukan?

Terlepas dari cita rasanya itu, Soto Sasak sendiri disebutkan telah memulai meramaikan radar kuliner Pulau Lombok sejak 1950-an silam. Hal itu dapat dilacak di salah sudut Kota Tua Ampenan, Mataram.

Jejeran konstruksi bangunan lampau di sepanjang kawasan Kota Tua Ampenan masih nampak berdiri kokoh. Jejeran konstruksi ini menjadi saksi sejarah bagaimana Ampenan dulu menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat.

C[ER]ITA Rasa yang Melegenda

Sedikit melipir ke jalan menuju kawasan wisata Pantai Ampenan, kita akan menemukan salah satu emperan toko yang menjadi saksi sebuah kelezatan kuliner yang melegenda. Tempat itu dikenal dengan sebutan Soto Si Tjang.

Menempatkan diri sebagai warung kaki lima, Soto Si Tjang memanfaatkan emperan salah satu bangunan tua di Jalan Pabean. Posisinya hanya terpaut beberapa meter sebelum area Pantai Ampenan yang diketahui merupakan eks pelabuhan.

Tanpa penanda nama yang terpasang, warung soto ini telah melekat kuat dalam bagian sejarah Ampenan. Saksi sekaligus menjadi legenda hidup yang masih bertahan sampai sekarang.

Nama “Si Tjang” sendiri berasal dari nama sang pemilik awal, Ong Sik Tjang, seorang warga Ampenan keturunan Tionghoa. Pak Tjang, sapaan akrab beliau, awalnya merintis soto jualannya dengan berkeliling sejak tahun 1950-an.

Jadi Awal Perjalanan

Ya, sebelum berada di kawasan Kota Tua Ampenan mulai tahun 1970-an, Pak Tjang memilih berkeliling mengenalkan soto racikannya sendiri. Kisah tersebut merupakan salah satu pemantik awal bagaima Soto Sasak bisa dikenal seperti sekarang.

Hingga kini, Soto Si Tjang masih bisa ditemukan di ujung Jalan Pabean. Emperan gedung tua yang menjadi tempatnya berjualan tepat berada di seberang Depo Pertamina, tak jauh dari gerbang masuk area Pantai Ampenan.

Sejak dulu, soto yang dijual Pak Tjang memang dikenal nikmat. Diceritakan, soto ini banyak menjaring pelanggan dari semua kalangan masyarakat. Harga yang bersahabat turut menjadi salah satu faktornya.

Sosok pribadi Pak Tjang sendiri juga dikenal sebagai seorang mualaf dengan nama muslim: Muhammad Mustamin. Beliau memilih memeluk agama Islam setelah menikahi istrinya, seorang wanita asal Lombok Timur.

Berlanjut dan Tak Berubah

Seiring berjalannya waktu, peran langsung Pak Tjang mengelola warungnya selesai di akhir 1980-an. Namun, sepeninggal beliau, Soto Sasak yang dikelolanya masih terus hidup.

Kini tongkat estafet Soto Si Tjang beralih. Kisah awal Pak Tjang dan Soto Sasak buatannya kini dilanjutkan anak angkatnya, Aminah.

Ibu Aminah bercerita banyak tentang mendiang ayahnya. Salah satunya adalah Pak Tjang yang mewarisi resep soto buatannya kepada dua orang anak angkatnya. Ibu Aminah salah satunya.

Kendati sudah beralih generasi, cita rasa dari Soto Si Tjang tetap tak berubah dari dulu. Ibu Aminah yang kini berusia 64 tahun tetap mempertahankan resep warisan dari sang ayah.

Bahtera Baru Ibu Aminah

Di bawah pengelolaan Bu Aminah, warung Soto Si Tjang memang masih tetap sama. Di bawah emperan bangunan yang sama, aroma Soto Sasak menguar kuat menarik pelanggan.

Peralihan generasi juga terjadi pada sisi pelanggan. Hal ini menunjukkan bagaimana sebuah menu makanan dapat mengikat antar generasi. Soto Si Tjang di bawah Bu Aminah, Soto Sasak dalam khazanah kuliner kita setidaknya masih mengepulkan asapnya.

Cerita rasa yang melegenda dari warung inilah yang setia menemani perjalanan Soto Sasak sebagai salah satu kuliner yang lahir di Lombok. Ya, seperti sebuah perjalanan mengikuti lajunya waktu.

Kini seporsi Soto Sasak dapat dinikmati seharga Rp22 ribu. Ibu Aminah dan warung sotonya dapat dijumpai di lokasinya mulai pukul 7 — 11 pagi setiap harinya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini