Sembalun, Sepetak Surga Kecil Penopang Kaki Sang Rinjani

0
6
sembalun

Alih-alih hanya menjadi spot pendakian favorit, Rinjani juga memberi dampak yang lebih jauh. Lebih kompleks dari sekadar objek wisata panorama semata.

Kemegahan Gunung Rinjani di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB); tak hanya tentang rerimbunan alam yang mewah. Tak sekadar menjadi ladang udara segar raksasa, di sekitarnya turut terdampak secara ekonomi.

Hal itu bisa dilihat di Sembalun, Kabupaten Lombok Timur. Alam Rinjani masih begitu terasa di kecamatan yang wilayahnya terbagi dalam 6 desa ini.

Sebagian keperkasaan Rinjani pun ditopang oleh kecamatan yang luas wilayahnya mencapai 217,08km² itu.

Apabila Gunung Rinjani adalah kota metropolitan alam, Sembalun adalah surga mungil. Letak lokasinya berada tipis di sebelah barat dan utara kaki Rinjani.

Relasi yang Mutual

Melihat keduanya memang seperti bagian yang terpisahkan. Saling melengkapi dan mewakili: antara keperkasaan alam dan sisi kehidupan yang humanis.

Letaknya yang saling berdekatan pun membuat Sembalun sedikit tidak kebagian “upeti” rutin dari sang Rinjani. Ketinggian Rinjani menghantarkan udara sejuk, dan air melimpah dikirim berkat rerimbunan nya.

Sementara, tanah subur di Sembalun pun termasuk dalam satu paket yang sama. Tak mengherankan memang, karena Gunung Rinjani sendiri merupakan area pusat sebaran vulkanik.

Demikian juga dengan Sembalun sebagai wilayah penopang kaki Rinjani. Kecamatan ini sudah sedemikian dikenal para pendaki gunung sebagai salah satu gerbang masuk utama ke tubuh Rinjani.

Panorama Alam Menawan

Apabila diibaratkan, Gunung Rinjani seperti Jakarta. Sementara Sembalun dan kawasan sekitar Rinjani mirip Bogor, Depok, Tangerang, atau pun Bekasi.

Nah, apabila digabungkan boleh jadi pola tersebut serupa dengan kawasan megapolitan. Kawasan yang dikenal dengan sebutan Jabodetabek.

Ya, tentu sebuah kemiripan yang berbeda. Selain panorama, keduanya punya perbedaan menonjol lain yaitu udara. Jika Jabodetabek identik dengan kemacetan dan polutan, “megapolitan mini” di Pulau Lombok justru bicara tentang oksigen dan alam dataran tinggi yang menawan.

Adapun ketinggian wilayah Kecamatan Sembalun sendiri berkisar antara 390-1.180 mdpl. Sejauh pandangan mata, dari kawasan ini akan disuguhkan jejeran perbukitan dan lanskap perkebunan yang lapang.

Peran yang Berbeda

Kendati sama-sama menyentuh nilai pariwisata, kawasan Gunung Rinjani, dan Sembalun—kawasan-kawasan lain di sekitarnya—tetap memiliki variabel yang membedakan satu sama lain.

Rinjani boleh jadi sebagai kekuatan besar. Sebagai pusat, paku raksasa Pulau Lombok ini berfokus pada panorama dan konservasi peran alaminya.

Lain halnya dengan Sembalun. Kendati akan mustahil menjadi “anak mandiri” di hadapan Rinjani secara alam, kecamatan ini adalah salah satu kepanjangan tangan Rinjani.

Sembalun bukan hanya sepetak surga kecil yang sekadar mendompleng nama dan peran besar Rinjani. Lebih dari itu, tetap ada kemandirian lain yang ada pada sisi sebaliknya.

Tempat Gerbang Masuk

Rinjani boleh saja merasa jumawa terhadap Sembalun—bahkan Lombok secara keseluruhan—yang bergantung padanya secara peran alam. Serupa produsen raksasa yang memonopoli produksi energi alam di Pulau Lombok.

Akan tetapi, sang raksasa mau tidak mau harus tahu diri bahwa salah satu kaki besarnya menapak di mana. Posisinya sebagai objek wisata begitu bergantung pada tempat di mana kakinya menapak.

Bagaimana bisa menikmati panorama Rinjani salah satunya karena Sembalun. Sebagai spot wisata, Rinjani bergantung pada Sembalun, bersama tiga kawasan yang menjadi tempat gerbang masuk lainnya.

Sembalun adalah penyalur kunjungan. Kecamatan ini serupa tutupan keran. Apabila Sembalun menutup diri, aksesibilitas resmi ke tubuh Rinjani pun otomatis ikut menuruti.

Manajer Si Artis Besar

Bayangkan saja Rinjani seperti seorang selebritis besar. Sosok tersohor dengan empat orang manajer. Maka, Sembalun adalah seorang dari keempat orang manajer tersebut.

Mungkin demikianlah gambaran tentang bagaimana peran utama keempatnya dengan Rinjani. Salah satu peran utama sang manajer adalah mengatur jadwal: kapan sang klien bisa menerima kunjungan para fans (baca: pendaki).

Untungnya, Sembalun tak pernah egois memainkan pintu gerbangnya. Bersama ketiga rekannya, peran tersebut dimainkan secara proporsional tanpa tendensi “menyiksa” Rinjani demi kepentingan duit dari sektor wisata semata.

Segala keutuhannya, termasuk penduduk Sembalun sendiri, sadar betul bahwa selama ini mereka sedang memainkan simbiosis mutualisme bersama Rinjani. Kemegahan Rinjani dieksploitasi, tapi berusaha—dan sudah semestinya—juga dijaga.

Penerjemah Tingkah Rinjani

Ketika Rinjani “merengek” dengan memperlihatkan aktivitas vulkanis, misalnya. Pihak dari keempat penjuru gerbang akan menangkap tanda bahwa gunung itu ingin beristirahat dari kunjungan para fans yang menjalari tubuhnya.

Atau, yang lebih buruk lagi daripada sekadar itu. Rengekan itu mungkin sebuah tanda jengahnya ia dengan para oknum fans yang berlaku nakal dan melanggar aturan. Andai saja Rinjani bisa bahasa manusia.

Sembalun pun turut menjadi salah satu kawasan “penerjemah” awal setiap rengekan Rinjani itu. Dari sana, kabar sang artis tersebut bisa diketahui secara lebih luas kemudian.

Baik Gunung Rinjani dan Sembalun seperti ditakdirkan untuk saling menopang satu sama lain. Pola relasi ini seolah memaksa keduanya selalu akur dan kompak dalam berkoordinasi.

Kemandirian Lain Sembalun

Selain menjadi “pintu gerbang” Rinjani, Sembalun tetap punya kesibukan lain. Hal itu bisa dilihat dari kehidupan penduduknya sehari-hari, bercocok tanam adalah salah satunya.

Di samping mengurus Rinjani, warga Sembalun—seperti yang sudah disinggung sebelumnya—juga menggarap sektor potensialnya sendiri. Ya, hasil alam melalui pertanian.

Bahkan, sektor pertanian dan perkebunan adalah denyut nadi bagi warga setempat. Persebarannya pun hampir merata di keenam desa di Kecamatan Sembalun.

Hal ini tak lepas pula berkat keberadaan Rinjani sendiri. Berdiri di area vulkanik, Sembalun sejatinya tahu betul akan potensi besar tersebut yang begitu nyata adanya.

Hasil Alam Melimpah

Potensi yang dirasakan inilah yang menjadi benefit yang diberikan Rinjani untuk Sembalun. Mungkin demikianlah cara Rinjani berterima kasih.

Sebagian besar warga Sembalun pun mengandalkan hidup mereka pada sektor ini. Berbagai komoditi hasil alam pun melimpah dari tanah suburnya, seperti kentang, wortel, kol, selada, cabai, tomat, bawang putih, stroberi hingga kopi.

Berkat persahabatan alaminya dengan Rinjani, hortikultura Sembalun pun turut memegang peranan penting bagi Lombok, bahkan bagi Provinsi Nusa Tenggara Barat secara keseluruhan. Tak lain, sebagai lokasi pasokannya berhulu.

Kota Mataram, ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Barat adalah salah satu wilayah yang rutin menunggu pasokan dari Sembalun.

Selain bergantung pada hasil panen, sejumlah pengelola juga membuka lahannya sebagai spot agrowisata sehingga menambah nilai ekonomi. Hal inilah yang menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi pariwisata di Sembalun.

Inisiatif di Sembalun ini pun menjadikan kawasannnya tak sekadar pemukiman dengan pintu gerbang menuju Rinjani. Melainkan juga sebagai tempat singgah berupa sepetak surga mungil.

Alhasil, tak sedikit wisatawan yang memilih menikmati Rinjani dengan cara lain tanpa harus menaiki tubuhnya. Banyak dari mereka bahkan dengan sengaja datang hanya melihat Rinjani dari salah satu ruang tamunya ini.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini