Replika Masa Lalu di Sebuah Desa

0
45
desa wisata gamplong

Yogyakarta memang selalu bisa menyihir banyak orang untuk terpesona. Rasanya tak berlebihan jika daerah ini disebut pantas menyandang status istimewa. Selain karena sisi budaya yang masih kental, Yogyakarta juga mampu menampilkan dirinya sebagai daerah yang kaya dengan potensi wisatanya.

Tentu, bukan cuma penampilan wisata alamnya saja yang menggoda para pelancong, melainkan juga objek wisata yang sengaja dibangun. Pun, hasilnya diproyeksikan untuk tampil dan memberikan suasana menarik.

Tampilannya memang punya daya tarik yang bisa dikatakan masih berelasi dengan suguhan yang umumnya ada di museum, tapi tempat yang diulas kali ini bukanlah sejatinya museum. Berbeda dengan Museum yang biasanya akan menampilkan pesonanya lewat kurasi sejarah, tempat yang satu ini jelas berbeda.

Dari segi tema dan namanya pun sudah sangat jelas, walaupun sama-sama menampilkan nuansa sejarah masa lalu. Menempati lahan seluas 2,7 hektare, pengunjung akan disuguhkan dengan jejeran bangunan bergaya kolosal.

Nuansa Keraton Mataram sengaja dipilih sebagai jantung dari tempat yang satu ini. Bangunan-bangunan ini pun seperti berformasi membentuk suasana kehidupan di masa Jawa Kuno.

Objek wisata ini seolah ingin menghipnotis setiap pengunjung untuk merasa seperti melakukan perjalanan waktu. Nuansa tersebut dijejali oleh bangunan-bangunan seperti rumah-rumah yang mengadopsi gaya arsitektur Jawa era 1600-an.

Rancangannya pun kian lengkap dengan adanya bangunan-bangunan lain seperti pendopo, gerbang, keraton, benteng, dan hiasan dari sejumlah elemen lain seperti gerobak kayu dan kandang sapi.

Lokasinya memang sengaja dirancang sedemikian rupa agar dapat menggambarkan seperti apa panorama kehidupan masyarakat Jawa Kuno, khususnya pada masa Kerajaan Mataram di masa lalu. Selain kompleks Jawa, tempat ini juga tidak luput menempatkan area perkampungan lain, yaitu Kampung Belanda dan Kampung Pecinan.

Dengan panorama yang disuguhkannya itu, tempat ini tentu sangat cocok bagi para pengunjung untuk menemukan spot-spot foto terbaik di beberapa titik lokasi. Di sini, pengunjung akan ditampilkan nuansa yang jauh berbeda dari museum.

Belum selesai di situ saja, selain sebagai spot hunting foto, pengunjung juga dapat menemukan areal wisata kuliner dan berbelanja produk oleh-oleh di sekitar lokasi. Salah satu yang terkenal di tempat ini adalah sentra produksi kerajinan tenunnya. Oleh karena itu, akan sangat mudah menemukan warga setempat yang sedang menenun dengan alat tenun tradisionalnya.

Kepopuleran industri tenun di tempat ini sendiri sudah datang jauh sebelum lokasi ini disulap sebagai objek wisata seperti sekarang. Sentra produksi kain tenun tempat ini sudah ada sejak tahun 1950-an silam. Tak hanya sekadar dibolehkan melihat-lihat, pengunjung pun dibolehkan mencoba untuk menenun dengan bimbingan dari penenunnya langsung.

Hasil tenun serat alam merupakan salah satu produk tenun yang terkenal dari tempat ini. Akan tetapi, meski sempat berjaya sebelum era milenium, perkembangannya kini cenderung regresif.

Setidaknya, ada sekitar 15 toko tenun yang masih aktif menjadi bagian dari lokasi wisata ini. Ingin belajar menenun? Coba saja datangi salah satu dari toko-toko tenun tersebut.

Lantas, kalau bukan museum, lalu apa?

Alih-alih sebagai lokasi penyimpanan benda-benda bersejarah, tempat ini sendiri merupakan sebuah kawasan desa wisata dengan hiasan bangunan-bangunan yang dirancang agar menyerupai nuansa masa lalu. Bisa dibilang, tempat ini adalah salah satu replika besar akan sesuatu yang pernah ada sebelumnya; di masa lalu.

Karena itu, di tempat ini kita melihat bagaimana bangunan-bangunan semi permanen dari bahan bambu dan kayu-kayuan terpampang. Bangunan yang saling berjejal rapi itu seolah membentuk sebuah rekayasa visual bagi para pengunjung yang ingin menjamah suasana masa lalu. Hal ini menjadi unik, lantaran dapat dirasakan ketika kita semua terkepung oleh jejalan modernitas di setiap sisi kehidupan saat ini.

Pernah menonton film Sultan Agung: The Untold Story yang rilis tahun 2018 lalu? Film garapan sutradara kenamaan Hanung Bramantyo itu menjadikan tempat ini sebagai salah satu lokasi pengambilan gambar (syuting) filmnya tersebut. Namun, lokasinya saat itu belum menyandang status sebagai desa wisata.

Lokasi tersebut bisa resmi menjadi desa wisata setelah proyek film tersebut usai. Proyek film inilah yang membuat lokasi tersebut tampak seperti sekarang. Hanung, sang sutradara dan timnya bisa dibilang menjadi ‘biang keladi’ bagaimana tempat ini menjelma sebagai desa dengan panorama wisata yang unik.

Disebabkan oleh kebutuhan pembuatan film, lokasi tersebut disulap menjadi studio yang kemudian disebut sebagai: Studio Alam Gamplong. Kata “Gamplong” sendiri merujuk dari nama dusun letaknya berada. Rencana pembangunannya terjadi pada pertengahan tahun 2017 bekerjasama dengan turut melibatkan pemerintah desa setempat.

Selepas proyek filmnya, Hanung akhirnya memilih untuk membiarkan rancangan studionya itu dikelola oleh warga sebagai objek wisata. Kini, dusun yang berada di ujung barat dan selatan Kabupaten Sleman itu populer dikenal sebagai Desa Wisata Gamplong. Dengan letak geografisnya yang berada di pinggiran itu membuat kawasannya jauh dari pusat keramaian kota, sehingga suasana asri dan tenang ikut menjadi unsur selaras yang khas dengan pedesaan di dalamnya.

Desa Wisata Gamplong pun makin populer setelah dijadikan set lokasi film garapan Hanung berikutnya. Film Bumi Manusia yang mengadaptasi cerita novel karya sastrawan Pramoedya Ananta Toer tersebut rilis setahun setelah Sultan Agung: The Untold Story. Dan, sejak itu juga area lokasinya mendapatkan beberapa perubahan.

Salah satu perubahan yang paling mendatangkan daya tarik adalah adanya sebuah museum yang berada di lokasi. Museum yang sebenar-benarnya museum tersebut pun dinamai dengan nama yang sama dengan judul film tersebut, yakni Museum Bumi Manusia. Museum ini sendiri merupakan bangunan yang sebelumnya digunakan sebagai set lokasi sebuah rumah kediaman dua pemeran yang ada di film Bumi Manusia, Annelis Mallema dan Nyai Ontosoroh.

Museum yang resmi dibuka untuk umum pada Agustus 2019 tersebut pun menjadi spot favorit bagi para penggemar novel atau film Bumi Manusia untuk disambangi ketika berada di Desa Wisata Gamplong. Alhasil, tempat ini pun tidak hanya berbicara tentang replika desa tempo dulu, melainkan diiringi pula oleh unsur wisata edukasi.

Dengan areanya yang cukup luas, di sini pengunjung akan banyak menemukan fasilitas menarik lain. Adanya kereta mini membantu para pengunjung yang ingin leluasa berkeliling kawasan. Hanya perlu merogoh kocek Rp10 ribu untuk mendapatkan layanan tersebut. Hal itu tentu tidak sebanding dengan harga tiket masuk yang dikenai “seikhlasnya” saja, bukan?

Bagi yang merasa belum puas, pengunjung juga bisa mengambil opsi menginap di sekitar lokasi. Karena jam buka setiap harinya sendiri mulai pada pukul 9 pagi – 5 sore, sehingga menginap bisa jadi pilihan. Selain itu, dengan menginap pengunjung tentunya lebih bisa menikmati suasana pedesaan tempo dulu di sana secara full time.

Setidaknya ada sejumlah rumah warga juga dapat dijadikan tempat menginap. Tarif menginapnya pun masih relatif terjangkau berkisar mulai Rp100 ribu per malam, tergantung tempat yang dipilih. Namun, jika ingin menginap di hotel yang berada tak jauh dari lokasi juga tak ada salahnya.

Letak lokasinya yang berbatasan dengan wilayah Bantul dan Kulonprogo, membuat Desa Wisata Gamplong tak sulit untuk diakses. Untuk menyambanginya, kita bisa mengambil rute awal melalui Jalan Raya Wates apabila perjalanan dimulai dari pusat Kota Yogyakarta. Jarak tempuhnya bisa memakan waktu ± 30 menit.

Dari Jalan Raya Wates, perlu perjalanan sampai ke kilometer 15 Jalan Raya Wates untuk menemukan pertigaan. Ambil arah utara dari pertigaan sampai menemukan penanda bertuliskan “Gamplong” di sebelah barat jalan.

Kemudian, lanjutkan dengan mengambil belokan ke kiri untuk sampai ke lokasi Desa Wisata Gamplong yang beralamat di Dusun Gamplong, Desa Sumber Rahayu, Kecamatan Moyudan, Sleman, D.I. Yogyakarta.

Kendati tidak menentukan harga tiket masuk dengan tarif tertentu, bagi pengunjung yang menggunakan kendaraan pribadi akan dikenakan biaya parkir. Tarifnya sendiri berada di kisaran Rp2.000 – 5.000 tergantung jenis kendaraan yang digunakan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini