Pertanian, Aset Pengentas Krisis Pariwisata di Sembalun

0
12
sembalun

Pulau Lombok adalah rumah bagi Gunung Rinjani. Bahkan, ⅓ luas pulau ini merupakan wilayah sang raksasa setinggi 3726 meter di atas permukaan laut (mdpl) tersebut.

Namun, Rinjani sejatinya tidaklah sesederhana yang tampak. Keberadaannya tak melulu soal objek visual semata. Peran alaminya pun berdampak pada kehidupan lain di sekitarnya, bahkan Pulau Lombok secara keseluruhan.

Dampak itu bahkan dimanfaatkan untuk berlanjut ke sisi ekonomi. Sektor pariwisata tentu sudah bukan rahasia lagi bagi Rinjani. Warga dari beberapa wilayah sekitar, bergantung pada pesonanya.

Selain itu, sektor pertanian dan perkebunan turut menjadi suatu hal yang tak terlepaskan. Kecamatan Sembalun, Lombok Timur adalah salah satu contoh paling nyata.

Kecamatan yang luasnya mencapai 217,08 km² itu dikenal menjadi salah satu tempat bagi sebagian kaki Gunung Rinjani. Berdiri berdampingan, membuat keduanya saling terkait satu sama lain.

Bertetanggaan dengan kemegahan alam Rinjani membuat Sembalun beruntung. Aktivitas vulkanis adalah salah satu alasan bagaimana kecamatan tersebut bergema dengan hasil alam.

Kepanjangan Tangan Rinjani

Melihat kemiripan nuansa alamnya, Sembalun merupakan sosok kepanjangan tangan Rinjani itu sendiri. Terlebih, status Sembalun yang menjadi salah satu kawasan pintu masuk ke trek pendakian Rinjani.

Tak sekadar berdampingan, keduanya memiliki koneksi kuat satu sama lain. Keduanya seolah saling melengkapi. Dan, dinamika di sektor pertanian adalah hal yang mungkin sulit ditemukan di Rinjani.

Rinjani bisa dikatakan sebagai pusat rimba di Pulau Lombok. Sementara sisi humanis mau tak mau menyesuaikan diri di hadapan aturan alam yang terpusat dan berhulu di Rinjani.

Aktivitas pertanian adalah salah satu titik di mana sang Rinjani membutuhkan delegasi. Sebagai salah satu teman dekat, Sembalun  melakukannya sebagai wujud dampak positif dari kemegahan alam itu.

Alhasil, Sembalun pun menjadi salah satu wilayah yang mampu meneruskan sejumlah “apa” yang tidak bisa dilakukan Rinjani sendirian. Koneksi mutual itu antara keduanya pun berlanjut ke penjuru pulau.

Operan Tongkat Estafet

Sektor pertanian merupakan salah satu tongkat estafet yang diemban Sembalun. Tak tanggung-tanggung, keenam desa di Sembalun turut terlibat.

Potensi itu memang sudah sedemikian terlihat. Melalui warganya, Sembalun pun tak pelak menjadi tempat tumbuhnya hasil alam turunan dari kekayaan yang dimiliki Rinjani.

Peran itu pun tumbuh subur di Sembalun—tersebar di 6 desa di sana. Sektor pertanian dan perkebunan pun bertransformasi menjadi denyut nadi paling vital bagi kehidupan masyarakat Sembalun.

Hasil alam turunan itu menjelma harta yang memiliki nilai ekonomi bagi warga. Adapun, harta tersebut berwujud komoditi hortikultura yang mampu menopang sebuah daur kehidupan.

Warga Sembalun bercocok tanam untuk meneruskan apa yang diberikan Rinjani. Sejumlah komoditi, mulai dari bawang putih, kentang, selada, kol, tomat, cabai, kentang, cabai, hingga stroberi dihasilkan dari kecamatan ini.

Tongkat estafet itu pun berlanjut. Bertransformasi menjadi pasokan bahan pangan bagi Pulau Lombok dan Nusa Tenggara Barat. Ya, koneksi Rinjani-Sembalun memegang peranan yang sebegitu penting.

Daya Tarik Tambahan

Berkat aktivitas pertanian ini, membuat pesona Sembalun memiliki panorama alami yang dimodifikasi. Lewat tangan-tangan warga, alam Sembalun turut dihiasi dengan hamparan ladang dan lahan perkebunan.

Hal ini pun turut menjadi daya tarik tambahan untuk Sembalun dalam menggaet wisatawan. Keenam desa di Sembalun pun cukup kompak dalam mengemas diri.

Panorama alam hijau, jejeran perbukitan yang berpadu dengan lanskap perkebunan menjadi suguhan di tempat ini. Maka tak heran jika penduduk sembalun mengandalkan dua mata pencarian; jasa wisata dan hasil garapan sawah.

Belum berhenti di situ saja, sejumlah warga yang mengelola pertanian juga memanfaatkan lahannya sebagai spot agrowisata. Wisatawan yang datang ke pun mendapat opsi tambahan ketika bertandang ke Sembalun.

Ya, dengan sekali dayung, dua sumber ekonomi pun diperoleh. Bisa dibilang, sektor pertanian di Sembalun memiliki daya untuk menopang ekonomi warga setempat, baik secara pariwisata maupun  nilai komoditi hasil panen itu sendiri.

Solusi Di Tengah Krisis

Daya tarik tambahan itu pun mampu menjadi solusi krisis bagi warga. Ketika sektor pariwisata melesu, sektor pertanian mampu menjadi ode bagi warga Sembalun.

Pasca bencana gempa Lombok 2018 dan pandemi Covid-19 misalnya. Pariwisata Lombok terkena dampak, tak terkecuali wisata di Rinjani. Namun, Sembalun masih mampu mandiri menghadapi krisis tersebut dengan bertani.

Ketika pariwisata lumpuh, warga Sembalun setidaknya masih memiliki aset lain yang dapat dikelola. Para pelaku wisata di Sembalun masih bisa bertahan karena sebagian mereka juga petani.

Berkat sektor pertanian, para pelaku wisata punya opsi peralihan. Jika pendakian Rinjani ditutup misalnya, mereka beralih dan bahkan menjadikan bertani sebagai kegiatan utama.

Merujuk hal tersebut, kita bisa membayangkan sebuah skema. Ketika Rinjani diharuskan “istirahat” dari tuntutan pariwisata, Sembalun tetap santai dan tak merengek mengganggu kenyamanannya.

Terpilih Berkat Potensi

Secara komoditi sayuran, hampir 50% pasokan untuk wilayah Kota Mataram dipasok dari Sembalun. Ini menandakan bahwa kecamatan ini begitu dominan terkait produktivitas hortikultura di Pulau Lombok.

Hampir seluruh wilayah yang ditanami sayuran di Sembalun menggunakan pola monokultur. Namun, sebagian lain juga menerapkan pola tanam tumpang sari (polyculture).

Sebagai contoh, komoditi bawang putih adalah hasil alam sembalun yang paling bergeliat. Bahkan pada tahun 2018 lalu, Sembalun jadi pilihan utama bersama 5 kecamatan di Lombok Timur untuk mendukung target swasembada tahun 2021.

Hal ini tentu tak aneh, mengingat potensi Sembalun dalam sektor pertanian. Dinas Pertanian dan Perkebunan NTB menyebut potensi lahan tanam bawang putih di Sembalun saja mencapai 40 ribu hektar.

Sementara menurut data di tahun yang sama dari Dinas Pertanian Kabupaten Lombok Timur, lahan bawang putih mencapai 10 ribu hektar. Penyebaran lahan terbesarnya sendiri ada di Sembalun yang mencapai 4 ribuan hektar.

Mengulang Masa Kejayaan

Di tengah semerbaknya potensinya itu, sektor pertanian Sembalun sendiri juga sempat menemukan masa jatuh. Era 1990-an merupakan titik di mana Sembalun begitu dikenal sebagai pusat penghasil bawang putih nasional.

Tanda-tanda kelesuan terlihat akibat terjangan krisis moneter. Hal itu diperparah lagi oleh kebijakan impor yang lebay hingga memaksa harga komoditi unggulan Sembalun tersebut terjun bebas.

Masa-masa itu menjadi masa kelam bagi para petani. Kerugian mengerubungi masa kejayaan dan membuat geliat pertanian lain di Sembalun perlahan meredup.

Namun, potensi pertanian Sembalun sejatinya belum pudar. Ada optimisme untuk kembali ke masa jaya yang dulu pernah mengiringi. Krisis moneter dan kebijakan impor sendiri tak lebih dari dampak situasional saja.

Selain luas lahan, kemiripan dan kedekatan koneksi alam dengan Rinjani membuat keyakinan itu masih terasa. Letak geografis, serta tingkat kesuburan tanah memperlihatkan potensi yang kurang lebih sama.

Apalagi, mengingat potensi Sembalun—seperti yang sudah kita kenal saat ini—yang sudah membentuk kolaborasi dengan sektor pariwisata, potensi besar itu semestinya bakalan lebih potensial lagi.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini