Pemuda Tangguh

0
7
Pemuda Tangguh

Aku sulung dari dua bersaudara dari pasangan keluarga brokenhome yang sebenarnya tidak kupahami saat itu. Usiaku masih sangat dini untuk mengerti semua keadaan yang kutemui. Yang kutahu hanya kami tidak bisa berkumpul lagi dirumah kecil itu. Karena aku dan adikku dibawa ayahku kerumah nenek, ibu dari ayahku.

Sementara ibu kami tinggal terpisah dari rumah yang tidak jauh dari rumah nenekku. Ayahku seorang supir truk dan harus pergi berlama-lama selama bekerja. Sementara ibuku seorang ibu rumah tangga.

Semenjak perpisahan ayah dan ibuku, kami seperti tidak memiliki kehidupan yang sempurna. Nenek dan kakek ku adalah orang yang sangat keras bahkan bisa dibilang kasar. Dari kecil, umur yang masih membutuhkan kehangatan kedua orang tua, kami harus bekerja membantu nenek dan kakek.

Meskipun itu mengurung ayam ternak dan mencarinya jika tidak pulang. Tetapi untuk usiaku yang saat itu masih 4 tahun dan adikku 3 tahun, itu adalah pekerjaan berat, dimana seharusnya kami bisa bermain bersama orang tua kami.

Jika kami melakukan kesalahan, maka cubitan, pukulan dan bentakan adalah santapan yang sering kami terima. Kami juga tidak bisa kembali kepada ibu, karena banyak sekali kata-kata yang menakut-nakuti kami tentang ibu. Sehingga membuat kami benar-benar takut kepada wanita yang melahirkan kami. Meskipun batin kami menjerit ingin berada dipelukannya.

Ketika kami mulai bersekolahpun tidak seperti biasanya kebanyakan teman- teman. Terkadang baju sekolah kami memang sudah berminggu-minggu tidak dicuci, dan warnanya sudah kotor sekali. Jika membawa bekal, juga lauk yang sudah dua hari ada dirumah, terkadang rasanya sudah tidak enak lagi.

Namun, sesekali ibu tetap berusaha datang menemi kami disekolah. Ketakutanku berubah menjadi kemarahan kepada ibu, karena semua yang kuterima selama dirumah nenek. Aku sering bersembunyi dan tidak ingin bertemu dengannya. Sementara melalui adikku, ia tetap menitipkan sedikit uang jajan untukku. Adikku memang terlihat begitu sangat merindukan pelukan ibu.

Malang memang nasib kami, ketika ayah yang sesekali pulang justru memarahi kami lantaran ada laporan yang sebelumnya tidak dipertanyakan dulu kepada kami. Padahal kami butuh bahunya untuk bersandar, atau mungkin hanya bertanya bagaimana kehidupan kami ketika ayah tidak dirumah?, ketika ayah tidak memberikan uang kepada nenek?.

Astagfirullah, ayah terus saja memarahi dengan kata kasar. Padahal kami sangat tertekan. Nenek dan kakek lebih mementingkan uang dari ayah dan membutuhkan tenaga kami untuk menyelesaikan semua pekerjaan dirumah.

Kini aku benar-benar merasa sendiri, ketika adikku berhasil pulang kembali kepangkuan ibuku. Dan aku merasakan semua tekanan itu sendiri. Meskipun begitu, aku tetap anak yang pintar dengan nilai yang baik dikelas. Alhamdulillah aku selalu lima besar dikelas. Ibu guru juga sayang kepadaku.

Wajahku terbilang tampan dan menarik, itu membuat banyak orang diluar sana sayang padaku. Termasuk sepupu ayahku yang juga begitu tulus menyayangiku. Membelikan tanpa diminta sehingga membuatku sering terharu karenanya. Kasih sayang mereka membuatku sadar, bahwa masih ada pelangi dibalik hujan. Semangatku semakin tinggi untuk bisa menjadi seorang yang sukses kelak dikemudian hari.

Dan aku beryukur masih memiliki orang tua seperti tante-tanteku. Aku ingin berjuang untuk masa depan cerah tanpa mengurangi rasa hormat kepada kedua orang tuaku. Kini aku duduk dibangku kelas dua Sekolah Menengah Pertama. Semangat untuk semua teman-teman diluar sana, jangan jadikan tekanan hidup menjadi penghambat keberhasilan kita, tetaplah berjuang. Karena Allah selalu menjaga kita dan pasti ada jalan untuk setiap kesulitan hidup. Jadikan semua kesulitan menjadi cambuk agar kita tetap tegak dan berhasil. Semangat berjuang teman-teman.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini